Kejauhan itu Membuat Hati Semakin Rindu – Tarbiyah dari Allah



Tanpa kita sadari, setiap perjalanan hidup manusia beserta sejarahnya adalah tarbiyah dari Allah SWT, tergantung diri kita, apakah mampu mengambil pelajaran serta hikmahnya. Sedikit dari manusia yang bisa mengambilnya, Allahummaj ‘alnaa minal qoliil..
Lebih dari 1 abad yang lalu, imam syahid Hasan al Banna dalam usia 22 tahun mampu mendirikan organisasi yang ditakuti dunia, negara-negara besar mempertimbangkan kehadiran organisasi ini, musuh-musuh dakwah terlalu lamban dalam menghancurkan organisasi ini dengan menculik dan membunuh para pimpinannya, ketakutan mereka membutakan makar yang mereka susun sendiri, sebab organisasi ini sudah terlanjur memiliki anggota yang ikhlas dan rela mengorbankan harta serta jiwanya, sehingga ideologinya sudah sangat dalam menghujam tanah, nilai-nilai islam dan jiwa da’i dalam menyebarkannya sudah menjadi darah daging yang menyatu dengan jasad mereka., ia memiliki pondasi yang sangat kuat, ketika ia dibabat habis, tumbuhlah kembali manusia-manusia tangguh dengan ideologi yang persis terjaga dan landasan Al Quran Sunnah yang syumul. Hingga hari ini pun organisasi ini terus berkembang, ialah Ikhwanul Muslimin (imam syahid lahir tahun 1906, IM didirikan tahun 1928). Tak terbayang, dalam usia semuda itu bisa menggetarkan dunia.
Namun saya tidak akan membahas organisasi yang luar biasa ini. Hanya saja, ketika saya menghisab diri alias muhasabah, apa yang sudah saya lakukan selama ini, kontribusi apa yang sudah saya berikan untuk dakwah ini, sudah mampukah saya membuat suatu perubahan yang dahsyat yang bisa mempengaruhi lingkungan? Atau lebih besar lagi, mempengaruhi kota? Provinsi? Negara saya? Hari ini, usia saya sudah lebih setahun dari 22 usianya imam syahid saat mendirikan organisasinya, mungkin bukan hanya saya, “Saya” terlalu sempit, mari beralih ke “kita”, kita renungkan bersama. Kita semua pasti akan merasa kerdil ketika membandingkan diri kita dengan mereka yang bisa mempengaruhi dunia dengan langkah-langkahnya, mengalihkan pandangan dunia dengan pandangannya, menetapkan kebijakan yang penuh hikmah dengan kekuasaanya. Ah, masih jauh! Perjalanan yang mereka lalui pasti sudah melampaui batas kemampuan yang kita miliki. Mereka terus bergerak, mereka merasa nikmat ketika letih oleh kerja-kerja dakwah, kaki kiri mereka iri ketika kaki kanan terluka karena dakwah. Mereka kuat, tangguh tak goyah. Ibarat orang-orang yang melingkar menggenggam tangan lalu bergerak berputar dengan cepat, tentu tidak mudah menembus lingkaran tersebut dibandingkan mereka hanya diam, apalagi sekedar menikmati perjuangan mereka yang bergerak nyata.
Awalnya saya hanya ingin menulis status singkat ketika merenungkan perubahan aktifitas yang

Tafakkaruu Fii Khalqillah..

Barusan melihat film kartun spiderman, seorang ilmuan tanpa tangan (cacat) menyuntikkan DNA cicak ke tubuhnya.. Shingga tangannya tumbuh sebagaimana ekor cicak yang bisa tumbuh setelah putus.. Ini imajinasi manusia..

Tapi kalau kita pikir2, sungguh luar biasa Allah menciptakan segala sesuatu, cicak memiliki kemampuan seperti itu, tapi kenapa hanya ada pada bagian ekor cicak? Bagaimana kalau kita memotong tangan cicak? Apa tangannya akan tumbuh lagi? Tentu tidak.. 

Atau beberapa jenis cacing yang serpihan tubuhnya bisa menjadi organisme baru, tidak mungkin bisa di adopsi oleh manusia, kebayang gak bila anda memotong kuku di tiap 10 jari, masing2 potongan tumbuh manusia baru.. Haha.. Konyol..

Lebih sederhana lagi, Allah mengatur pertumbuhan rambut manusia, bagaimana kalau kecepatan tumbuh rambut sama dengan alis mata atau bulu hidung, kenapa gigi tidak tumbuh panjang terus seperti kuku? Kenapa rambut di tangan atau kaki tidak selalu bertambah panjang seperti rambut di kepala?

Betul, semakin banyak kita berpikir tentang penciptaan apa yang ada di langit dan di bumi, akan memperkokoh iman kita kepada Allah, taqarrub nya orang beriman adalah ma'rifatnya kepada Yang Maha Pencipta.

"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk, dan dalam keadaan berharing, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sambil berkata: "Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau! Maka peliharalah kami dari siksa neraka" (Al Imran: 191)

Merasa Ibadah Sempurna?



Sepotong kisah seorang sahabat, seorang penenun kain, ia biasa menenun kain-lain yang berkualitas. Suatu hari ia menenun selembar kain, ia melakukannya dengan penuh perhatian, dalam waktu yang sangat lama, dengan bahan terbaik, dengan kehati-hatian yang tinggi. Hingga berbulan lamanya, akhirnya kain itu selesai, dengan gembira dan keyakinan yang tinggi ia membawa kainnya tersebut kepada sahabatnya yang biasa menjualkan kain tenun, yang sekaligus ahli dalam menilai harganya. 

Setibanya di pasar, kain tenun tersebut ia serahkan kepada sahabatnya, dengan sangat menyesal sahabatnya berkata, "Maaf, saya tidak bisa mengambil kain ini", dalam artian bahwa menurutnya kain tenun itu tidak layak dijual, tidak akan laku, tidak bagus dan tidak berkualitas. Diluar dugaannya, jawaban yang membuatnya kaget, padahal ia membuatnya dengan penuh kesungguhan, ternyata kainnya itu tidak bernilai dalam pandangan ahlinya. Lalu ia menangis, berurai air matanya.

Sahabatnya kembali berkata "Mengapa engkau menangis? Baiklah, karna engkau sahabatku tetap akan aku beli kain mu ini, berapa engkau menjualnya?". Lalu ia membalas lagi,

"Tidak sahabatku, bukan kain ini yang aku tangisi. Tapi aku takut perihal ibadahku, seandainya semasa hidup aku merasa ibadahku sudah begitu sempurna, sedangkan saat aku menghadapNya, ternyata ibadahku tidak ada apa-apanya, tidak bernilai dihadapanNya".

Allahu Akbar, seperti itu kekhawatiran seorang sahabat terhadap dirinya. "'Aamilatun naashibah", bekerja keras berpayah-payah ternyata akhirnya neraka, bagaimana dengan kita? Seorang aktivis dakwah tidak tertutup kemungkinan jatuh pada golongan ini, apa orientasi kita dalam berdakwah? Untuk berbangga-bangga? Untuk tampil sebanyak-banyaknya? Agar dikatakan shaleh? Agar dipandang oleh banyak orang? Atau dakwah, amal-amal dan kerja-kerja yang telah dilakukan dirasa sudah sangat banyak dan sempurna, padahal nilainya masih sangat kecil di hadapan Allah. Betulah orientasi akhirat akan lebih menjamin dan bisa menjaga keikhlasan kita.

Semangat!!

Dakwah Komunitas, Kesempatan Langka


Kali ini mau nulis sederhana, tapi serius nih, dimulai dengan bismilah dan janji Allah, “Bumi ini tidak akan pernah sepi dari para pendakwah”, sudah sebuah kepastian, berkontribusi atau tidaknya kita, pasti tetap akan ada orang yang berdakwah di Bumi ini. Teruntuk para aktivis dakwah di seluruh dunia, dimanapun berada, di organisasi, komunitas, lapisan masyarakat manapun, insyaallah kita akan selalu bertemu, baik di dalam hati, do'a maupun aktivitas-aktivitas yang kita kerjakan. Semoga kita dapat bertahan hingga bermuara di Surga nantinya, Allahumma amiin..

Setelah mengalami banyak hal seminggu terakhir, ada baiknya menuangkan pikiran pada keyboard kecil ini. Terkait dengan Dakwah Komunitas yang tentunya berbeda dengan dawak kampus, mendengar kata "komunitas", ada yang terbayang kompak, solid, rame, asyik, atau bahkan mungkin ada yang berpikir hura-hura, rasis, gak penting, dan lain-lain.

Masing-masing komunitas berbeda pula cara dakwahnya, adalah kewajiban kita untuk mendakwahkan semua, dan seni berdakwa ini harus selalu kita gali dan mainkan, tidak ada yang baku disini karna setiap komunitas memiliki cara pendekatan yang berbeda. Komunitas smartphone android tentu berbeda dengan komunitas mobil, komunitas motor tentu berbeda dengan komunitas sepeda, komunitas orang-orang seni tentu berbeda dengan komunitas olahraga juga berbeda dengan komunitas beladiri, komunitas fashion hijab juga tentu berbeda dengan komunitas hijaber yang sesungguhnya, komunitas orang-orang perkotaan tentu juga beda dengan komunitas orang pedesaan, komunitas mahasiswa dengan komunitas preman jalanan? Tentu berbeda, apalagi mahasiswa yang intelek plus kritis dan tidak mudah menerima sesuatu yang baru. Boleh jadi satu metode pendekatan cocok dengan suatu komunitas tapi di sisi lain tidak pas dengan komunitas lainnya.

Yang namanya dakwah, sudah sunnatullah, pasti ada penentangnya, pasti akan ada benturan-benturannya. Ketika kita menyandang beban sebagai aktivis dakwah, dan menjadi pengusung dakwah pada suatu komunitas, apapun komunitasnya, maka adalah sebuah keniscayaan bahwa kita akan berhadapan dengan halang rintang, duri, lumpur, perbedaan pendapat meski sesama pendakwah dan hal-hal lain yang menjadi beban pikiran, mari kita husnuzhan dan saling support terhadap aktivis di komunitas manapun. Diawal mungkin sedikit terbentur, ditengah tersandung, dan siap tidak siap pada waktunya kita akan melawan arus utama dalam suatu komunitas, pada waktunya kita harus menunjukkan prinsip-prinsip yang sebenarnya, disinilah klimaksnya apakah kita akan hanyut? Na'udzubillah, atau kita mampu mengubah arus tersebut, yang insyaallah akhirnya akan menjadi arus yang damai, sejuk, atau angin yang sepoi atau menjadi tanaman yang berbuah manis, lembut dan enak.

Disuatu pelatihan dakwah media, seorang pemateri mengatakan, bahwa didalam meretas dakwah media sosial atau komunitas, kita perlu perlu mengembangkan integritas, ini dimainkan sesuai dengan komunitas yang kita geluti. Kita juga harus memiliki softskill yang bisa kita bagi, atau ilmu yang dibutuhkan oleh komunitas tersebut, dan perlu juga memperkokoh konsistensi. Di dalam grup komunitas smartphone misalnya, kita membangun integritas diri sebagai orang yang gaul karena kebanyakan isinya emang orang gaul, muda, hitech dan kekinian. Tentu kita harus punya softskill yang bermanfaat bagi komunitas tersebut, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di grup, memecahkan permasalahan-permasalahan yang dilontarkan member lainnya. Dan yang terpenting kita konsisten dengan apa yang sudah kita mulai. Dengan tiga bekal tersebut insyaallah kita tidak akan sulit menyampaikan dakwah.

Berbeda lagi dengan komunitas lainnya, bangun profil kita, kita harus tampil sebagai apa? Sebagai pelawakkah? Sebagai ? Sebagai anak gaul? Atau yang paling mudah sebagai diri pribadi kita. Yang terpenting nih, yang pertama sekali perlu kita perjuangkan adalah akseptabilitas kita di dalam komunitas. Betul! Penerimaan orang-orang terhadap kita, apa upaya kita? Tentu mendekati, merangkul dan akhirnya membuat orang percaya dengan dakwah ini. Baru-baru ini seorang trainer mengatakan "Ambil hatinya dari bawah, lalu masukkan ke hati kita". Nah, kalau hati mereka sudah masuk ke hati kita alias kita mampu memahami sebuah komunitas, maka dengan mudah kita mengubah arusnya. Apabila kita mengambil hatinya dari atas alias tiba-tiba saja kita memaksanya kepada dakwah ini, malah sebaliknya, cara kita yang salah alih-alih membuat mereka akan lari dan alergi dengan dakwah ini.

Seiring dengan semua usaha tersebut, jangan lupa terhadap hak-hak Allah dan hak-hak pribadi kita, ibadah, akhlak, jangan sampai kebablasan, selalu bangun komunikasi kita dengan Rabb agar kita semakin dekat denganNya. Sehingga Allah juga akan terus mempermudah usaha-usaha kita, walau ujian dariNya tetap ada untuk menaikkan "level" kita, semua untuk kebaikan kita. Sungguh, faktor inilah yang paling menentukan, semuanya percuma apabila tidak diniatkan untuk agama dan ridhoNya.

Sayyid Qutb rahimahullah: “Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri, ia akan hidup kkecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk ummatnya, iia akan hidup mulia dan besar dan tidak akan pernah mati”

Diakhiri juga dengan janji Allah, Bumi ini tidak akan pernah sepi dari para pendakwah, sebuah kepastian, berkontribusi atau tidaknya kita, pasti tetap akan ada orang yang berdakwah di Bumi ini. Teruntuk para aktivis dakwah di seluruh dunia, dimanapun berada, di organisasi, komunitas, lapisan masyarakat manapun, insyaallah kita akan selalu bertemu, baik di dalam hati, do'a maupun aktivitas-aktivitas yang kita kerjakan. Semoga kita dapat bertahan hingga bermuara di Surga nantinya, Allahumma amiin..
Allahu a’lam, semoga bermanfaat terkhusus diri pribadi.

“Ahmad nggak akan bisa bahasa inggris ummi”


Bismillah, mumpung banyak duduk-duduk di tempat KP, apalagi bisa online buka laptop yang biasanya Cuma dengan handphone, lebih baik menulis. Karna saya lebih suka menulis pengalaman pribadi, sebab yang tahu betul tentang kejadian, perkara dan pengalaman yang dialami seseorang tentu pelakunya, soal hikmah semua bisa memetik. Insyaallah bertekad membuat minimal tiga tulisan dalam waktu dekat, pengalaman belajar bahasa inggris, bahasa arab yang tidak begitu panjang dan pengalaman menghafal Quran yang sebenarnya juga hutang pribadi. Berikut tentang Aku dan Bahasa Inggris J
 _________________________________________________________________________________

 “Ahmad nggak akan bisa bahasa inggris ummi..”


                
             Setelah pindah dari Padang ke Jambi, aku memulai pendidikan jenjang TK dan sekolah dasar di Jambi. Ini adalah cerita singkat tentang hubunganku dengan bahasa inggris. Jujur, Ummi dan Abi ku bukan orang yang sering berinteraksi dengan bahasa inggris, dirumah hampir tidak pernah berbahasa inggris, jauh berbeda dengan keluarga salah seorang teman yang kukenal, dimana kesehariannya, canda tawanya di rumah bersama keluarga menggunakan bahasa inggris, ngigaunya bahsa inggris juga kali ya. Sampai aku menduduki jenjang Sekolah Dasar kelas 4 pun, aku tidak pernah bersentuhan dengan mata pelajaran yang bernama bahasa inggris. Untung ruginya pun aku tidak peduli, karena memang tidak akan bergelut disana, Abi Ummi juga tidak pernah menganjurkan untuk mempelajarinya lebih dalam di masa itu. Hingga Abi pindah bekerja ke Sumatera Selatan, kabupaten Sekayu, Musi Banyuasin, meski daerahnya cukup lebih terpencil daripada kota Jambi, tapi ternyata di tempat ini ada mata pelajaran bahasa inggris. Mulailah aku belajar bahasa inggris dari awal, tidak dari nol sih, sebelumnya aku sudah mengenal kata “Yes, No, You, One, Two, Three, Four”, berarti dimulai dari 0,00476, ahahaha, geli memang jika dibandingkan dengan zaman sekarang, kelas V SD tidak bisa berbahasa inggris.
                Dan ternyata aku betul-betul menyesal bercampur malu, seakan topeng beton pun tak bisa menutupi wajahku. Mengeja angka 1 hingga 20 saja aku tidak bisa, membaca sebuah kalimat itu durasinya sama dengan membaca sebuah paragraf, apalagi akan mengigau bahasa inggris, ngarep. Alhasil, disaat ujian teman-teman baruku banyak yang kasihan melihatku belum juga mengumpulkan lembar ujian, sesekali mereka berbisik dari jauh memberitahu jawaban ujian kepadaku, aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum, fake smile karena akupun tak paham dengan apa yang mereka bisikkan, miris. Entah karena paradigma yang tertanam di benakku bahasa inggris itu memang sulit sekali, yang disampaikan guru selama 2 tahun SD di Sekayu itu sama sekali tidak men-sibghah-ku. Hingga aku sempat sekolah di SMP 1 Negri Sekayu kelas satu sebelum aku pindah ke Padang. Sama saja, aku sama sekali tidak mengerti. Aku masih ingat wajah guru bahasa inggrisku yang sering kecewa dengan hasil ulanganku. Meskipun saat itu aku mampu menghafal banyak kata kerja beserta bentuk past hingga bentuk ketiganya, tapi aku tidak tahu kapan dan dimana aku bisa gunakan puluhan kata-kata itu, mungkin karena aku tidak belajar dari dasarnya, biasalah anak pindahan. Ah! Menyedihkan. Puncaknya sampai aku melontarkan kata menyerah, aku mengibarkan bendera putih, putih dengan bercak merah oleh tangis darahku, www.mirissekali.com, haha.. Aku katakan ke Ummi sepulang sekolah “Ahmad nggak akan bisa bahasa Inggris mi..”. Lalu Ummi memotivasi seperti biasa, dengan tambahan taujih-taujih yang menyentuhku, tapi tak tanggung-tanggung paku beserta palu paradigma tadi sudah lama dan kuat menancap serta mengakar di benakku, dicabut rame-ramepun tak akan bisa.
                Akhirnya, aku pindah sekolah ke Padang, pertama kalinya berpisah dengan Abi dan Ummi, perpisahan yang sangat menyedihkan, terbukti saat itu aku betul-betul tak tahan menatap mobil Abi yang

#RUH, Energinya Aktivis Dakwah


Bismillahirrahmanirrahim.. Kultwit ini adalah hasil perenungan sepanjang perjalanan beberapa hari atau minggu ini.. Smoga brmanfaat, #ruh

1. Juga selama menjalani hari tadi, terenung,trpikir bbrpa aktivis dakwah di lingkungan ana, aktivitas2 yg selalu padat, tak mengeluh.. #ruh

2.Ya, tidak mengeluh. Mereka justru berusaha semaksimal mungkin untuk memanejemen aktifitas2 kebaikan yg begitu banyak.. #ruh

3. Dari setumpuk agenda dalam sehari td terpaksa harus dikorbankan beberapa, dengan berat hati tak dapat menghadirinya.. #ruh

4. Yg mbuat ana terharu,mreka smua bkerja tanpa ad trlintas d pikiraný imbalan utk kepentingan diri,

Dakwah Akhir Zaman, Tribute to #MubesFKIRabbaniXI



 Bismillahirrahmanirrahim.

      Teringat khutbah khatib hari jum’at yang lalu, mengenai akhir zaman. Fitnah terjadi dimana-mana, fitnah ini adalah ujian keimanan seperti harta, jabatan dan wanita. Bukan fitnah yang kita pahami sebagai tuduhan tanpa bukti. Dimedia masa apapun kita perhatikan, kasus-kasus atau permasalahan negri ini selalu berhubungan dengan fitnah dunia ini.
Namun pada tulisan kali ini, ana tidak berniat membahas permasalahan negri yang begitu pelik ini, melainkan tertarik menulis ini sebab terpancing karena pernyataan seorang ikhwah pada #MubesFKIRabbani XI hari pertama, kurang lebih berikut penggalannya,

Allah Tidak Adil?



Hidup adalah pilihan, tentukan pilihanmu, maka Allah menetapkannya.

Sejak pertama saya menjadi mentor agama di UNAND, dan tepat setiap saya  membahas mengenai Ma'rifatullah, selalu saja ada yang berkomentar "Allah itu tidak adil ya da?", sehingga khusus mentoring beberapa waktu lalu, saya menjadikan ini bahasan khusus, dan saya yang harus memulai bertanya kepada adik-adik.

"Menurut adik-adik Allah itu adil g?"

"Adil da", semua kompak menjawab.

"Lalu bagaimana menurut adik-adik tentang Lauhul Mahfuz? Bukankah di kitab itu telah tertulis seluk beluk kehidupan kita? Mulai dimana kita lahir, siapa Ibu dan Ayah kita, jenis kelamin kita, kegiatan-kegiatan kita bahkan hal yang detail, kita mau makan, kita terjatuh, semut pun ditetapkan matinya terinjak oleh adik-adik atau karna.. kelaparan mungkin, hingga kapan kematian menjemput kita, dimana, jam berapa, dan apakah kita akan disiksa di alam barzakh, dan akhir pemberhentian kita, surga atau neraka. Semua sudah tertulis bahkan sebelum ruh kita diciptakan"

"Tu bantuak robot se awak da.."(Berarti kita seperti robot bang..) salah seorang memotong..

"Nah, lantas Allah adil? Buat apa kita beribadah kalau ternyata akhir kita sudah ditetapkan?"

Semuanya diam, saling menatap satu sama lain sambil senyum-senyum dan manggut-manggut.

"Uda setuju dengan ungkapan 'Hidup Adalah Pilihan', memang semua yang kita lakukan adalah pilihan kita, uda mengangkat pena ini adalah pilihan uda, uda mengangkat mushaf ini adalah pilihan uda, uda menahan nafas sekarang, ..... ...... adalah pilihan uda, uda manapuak kiki ko, pilihan uda, tapi semua tetap atas izin...?"

"Allah.." Semua kembali kompak.

"Bahkan surga dan neraka itu adalah pilihan uda, semua  orang kalau ditanya pilih mana antara surga dan neraka, semua pasti jawab surga, tapi kelakuan sehari-hari, aktifitas sehari-hari dan akhlaqnya? Apakah mencerminkan calon penduduk surga? Tidak semua.. Mereka ingin masuk surga, tapi tetap melalaikan shalat dan maksiat-maksiat yang sudah dianggap lumrah"

"Kembali ke BAB adil atau tak adilnya Allah, semua aktifitas tadi adalah pilihan kita masing-masing, ingat dalam ma'rifatullah yang paling penting kita bold, italic dan underline adalah sifat Allah sebagai Ilah, Maha Teliti, Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa lau dan apa yang terjadi di masa yang akan datang, Allah Maha Mengetahui apa yang akan uda lakukan, Allah tahu kalau uda akan berdiri sekarang, Allah tahu kalau mungkin uda akan tilawah setelah ini, atau mungkin uda akan bermaksiat setelah ini, semua tetap adalah pilihan uda, karena Allah mengetahui apa yang akan terjadi terhadap diri uda, dan Allah mengetahui apa saja pilihan-pilihan uda selanjutnya, lalu Allah menuliskan pilihan-pilihan itu di Lauhul Mahfuz, jadi masuk neraka  atau surga itu adalah pilihan kita! Bukan ketidak adilan Tuhan"

Ya, hidup adalah pilihan, tentukan pilihanmu, pilihan penduduk surga, maka Allah menetapkannya..

Tulisan singkat, semoga bermanfaat.. :)
Allahu a'lam..

Dulu, kita itu..


Suatau masa, kita kan tersedih melihat apa yang telah kita lakukan, mengenang apa yang telah kita lupakan, menerawang apa yang telah kita tinggalkan.
Dulu itu,
kita tersenyum dalam ukhuwah dan keimanan,
kita berpelukan hangat saat baru datang dari kampung setelah liburan panjang dan Ramadhan,
kita belajar sebagai jihad dan kesungguhan,
kita berpacu ke Masjid diawal waktu sebagai lomba dan kebanggaan,
kita khusuk baca al ma’tsurat di shaf pertama,
kita memandang ke Laut sambil membenamkan ayat demi ayat yang kita hafal,
kita memejamkan mata sambil memurajaah hafalan yang akan disetorkan,
kita membawa mushaf sampai ke lapangan futsal dan tetap murajaah sambil menungu giliran,
kita iri ingin jadi imam seperti sebagian dari kita yang telah ustadz perbolehkan,
kita terlelap dengan mushaf masih di tangan
kita bermain bola dengan teriakan TAKBIR saat menjebol gawang lawan
ditengah dinginnya kampus kita ujung malam, beberapa orang menyelinap ke kamar mandi berwudhu dan menuju masjid yang masih gelap, mengantongi mushaf dengan bangga di saku jaketnya
dimasjid yang kelam, yang memang Lampu belum dihidupkan, seorang kawan terisak di dekat Tiang masjid dalam sujud Tahajjudnya...... desiran angin mengibarkan sarung kami, isakan itu hilang dikegelapan...
isakan tangis memohon ampun, dari kawanku yang jauh lebih banyak hafalannya, jauh lebih indah akhlaknya, jauh lebih santun ucapannya, jauh lebih tinggi nilai rapornya, isakannya melebihi isakanku, kondisi demikian semakin membuatku terisak labih keras, isakan kami bersahutan
saat waktu subuh datang, kita kembali mengambil wudhu karena pipi kita barusaja kering dari air mata yang meminta ampunan, berlama-lama shalat sunnah qabliah shubuh membaca hafalan terbaru, semua hening...... suasana dunia sudah sangat jauh seakan Allah akan menggelar Hari Pembalasan.
Dulu kita itu, terkagum-kagum dengan cerita para ustadz tentang kehebatan Islam masa keemasan, berdecak bangga dengan keberanian pasukan Islam, tersenyum haru dengan kisah ukhuwah yang suci tak tertandingi,

Dulu kita itu, ................
Maka akan datang masa kita teringat lagi, rindu lagi, dan ingin mengulangi kembali, meniti hari demi hari di sebuah dataran di kaki bukit Pinggiran Kota Padang
Ayo kawan, kita kembali pungut serpihan – serpihan itu, masukkan kedalam ransel lusuh kita untuk bekal sebelum langkah kita tak lagi bisa beranjak, sebelum kita kembali dikumpulkan di Lapangan Mahsyar, sebelum kita menjalani  Program Magang Di Kiburan......
Masih ada waktu, sebelum Suatau masa itu datang, dimana kita kan tersedih melihat apa yang telah kita lakukan, mengenang apa yang telah kita lupakan, menerawang apa yang telah kita tinggalkan.

Air Tawar Barat, 3 November 2013
Adnan Arafani, dulu dan Sekarang

Design Seragam KOBAR, MadeToResist

Assalamu'alaikum..
Ini seragam KOBAR Ikhwan dan Akhwat fix!
[KOBAR, Korps Barisan Rabbani]
Seragam pandu kampus untuk acara2 outdoor LDK dan LDF se Unand

Pedoman Ukuran (Size/Lebar/Panjang) dalam cm.
*cara pemesanan sesuai sms yang didapatkan :)
a. Ikhwan
(S/42/65)
(M/45/68)
(L/48/70)
(XL/51/72)
 
a. Akhwat
(S/38/70)
(M/42/70)
(L/48/72)
(XL/51/75)

*Harga yang didapatkan terakhir Rp 60rb (belum termasuk slayer dan ongkir) dengan bahan combed (seperti bju distro), sekarang sedang mencari tempat lain yang lebih murah.

KOBAR, MadeToResist
 


"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi, lebih baik daripada menyentuh kaum yang tidak sejenis yang tidak halal baginya"

TAKBIIIR...!!!

Allahu Akbar!!! Gear 2nd mujahadah tanpa kenal lelah...